hero-image

Penetrasi Asuransi di Indonesia.

Kali ini kita akan membahas market penetration atau dalam Bahasa Indonesia, penetrasi pasar bagi industri asuransi di Indonesia. Tapi sebelum kita mulai, apa itu penetrasi pasar? 

Menurut Will Kenton, seorang ahli hukum dan peraturan ekonomi dan investasi, penetrasi pasar merupakan alat ukur untuk mengetahui seberapa banyak produk atau layanan yang digunakan oleh pelanggan yang nantinya akan dibandingkan dengan total perkiraan pasar untuk produk atau Layanan tersebut.

Selanjutnya, Sugiarto dalam buku berjudul Teknik Sampling (2003) mengatakan bahwa penetrasi pasar merupakan upaya meningkatkan penjualan produk yang sudah dimiliki oleh pasarnya yang sekarang, antara lain melalui bauran pemasaran yang lebih agresif atau gencar dan besar.

Penetrasi pasar juga dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran pasar yang potensial. Apabila total pasar besar, pendatang baru dalam industri dapat didorong jika mereka dapat memperoleh pangsa pasar atau persentase dari jumlah total pelanggan potensial.

Dengan kata lain, penetrasi pasar dapat digunakan untuk menilai potensi perusahaan dalam suatu industri untuk memperoleh pangsa pasar atau meningkatkan pendapatan melalui penjualan. Penetrasi pasar juga menilai pangsa pasar produk mereka pada skala global dan industri, serta untuk mengukur ruang lingkup dan untuk produk dan layanan.

Sebagai contoh, penetrasi pasar untuk handphone secara global. Penetrasi pasar handphone global sering dipakai untuk memperkirakan apakah produsen handphone tersebut dapat memenuhi target proyeksi pendapatan mereka. Ketika pasar dianggap merata, berarti bahwa perusahaan yang sudah ada memiliki mayoritas dari pangsa pasar yang akhirnya hanya ada sedikit ruang untuk pertumbuhan sales/penjualan yang baru. 

Fungsi lain, menurut Kotler and Armstrong (2009), penetrasi pasar juga merupakan strategi penetapan harga rendah yang diadopsi oleh perusahaan untuk produk baru ataupun untuk produk yang sudah ada untuk menarik lebih banyak pembeli dan pangsa pasar yang lebih besar.

Nah, suatu perusahaan dianggap sebagai pemimpin pasar dalam suatu industri jika produknya memiliki penetrasi pasar yang tinggi. Pemimpin pasar pada dasarnya memiliki keunggulan pemasaran karena produk dan merek mereka yang mapan dan dikenal banyak orang memungkinkan mereka menjangkau lebih banyak pelanggan potensial.

Lalu, bagaimana penetrasi industri asuransi di Indonesia? Yuk, kita bahas!

Di negara Indonesia, penetrasi pasar asuransi masih rendah terhadap PDB  (Produk Domestik Bruto) negara, dibandingkan dengan negara lain yang berada di Asia. Contohnya, mengambil data dari statica.com, Taiwan mencapai 17,4%, Korea Selatan telah mencapai 11,6%, dan Jepang mencapai 8,1% pada tahun 2020. 

Berdasarkan paparan Adi Budiarso, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal  Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu), Indonesia juga memiliki penetrasi dan densitas terendah di Asean. 

Dikutip dari Investor.id, Penetrasi asuransi di Indonesia 2021 hanya mencapai 3,18%. Dengan rincian sebagai berikut; penetrasi asuransi jiwa 1,19%, asuransi umum 0,47%, asuransi sosial 1,45%, dan asuransi wajib 0,08%. Sedangkan angka densitas baru sekitar Rp 1,82 juta.

Oleh karena itu, Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdedikasi untuk semakin meningkatkan penetrasi dan kepadatan asuransi di Indonesia. Sedangkan, penetrasi dan densitas yang tinggi sangat dibutuhkan lho. Kenapa penting sekali ya? Sebab apabila Indonesia memiliki penetrasi asuransi yang tinggi, industri asuransi bisa membantu menjadi faktor penyeimbang pasar modal Indonesia. 

Selain itu, penetrasi asuransi yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional secara waktu yang lebih singkat dan tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Nah, sekarang apa sih dampak dari rendahnya penetrasi pasar asuransi untuk Indonesia? Salah satu dampak dari penetrasi asuransi rendah yang dialami Indonesia adalah negara kita akan sulit menjadi negara maju dan bersaing dengan anggota G20 lainnya. Dimana menurut Adi Budiarso, untuk menjadi Negara maju kontribusi asuransi harus mencapai setidaknya 20% PDB. Namun, realitasnya peran industri asuransi terhadap perekonomian domestik baru mencapai 5,8% terhadap PDB dengan penetrasi di bawah 4%. Hal ini dapat tercermin pada kontribusi aset industri asuransi.

Pertanyaan terakhir kali ini adalah kenapa penetrasi asuransi Indonesia masih rendah? Mengutip dari Robertus Billitea, Direktur Utama Indonesia Financial Group (IFG) pada konferensi pers di Jakarta tanggal 18 Mei 2022, bahwa terdapat beberapa faktor penyebab penetrasi asuransi di Indonesia menjadi rendah dan literasi keuangan merupakan faktor utamanya.

Dikarenakan literasi keuangan yang cukup rendah, asuransi sering kali hanya dianggap sebagai produk alternatif atau sekunder yang dijual maupun produk yang dipasarkan saja. Dengan kata lain, dari kacamata masyarakat Indonesia produk  asuransi tersebut tidak atau belum menjadi barang yang wajib dimiliki untuk perlindungan di masa depan. 

Hal ini bisa dilihat dari tingkat literasi asuransi sendiri yang baru mencapai 19,4%. Sedangkan, indeks inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 83,6% pada tahun 2021 lalu.

Dengan ini, industri asuransi terutama di Indonesia memiliki tantangan tersendiri yang harus dilalui. Mengembangkan produk asuransi yang lebih beragam untuk berbagai kalangan dan harus mulai menyebarkan awareness tentang literasi keuangan ataupun asuransi. 

Now is our time to shine! That is what Sunday Indonesia is for. Yuk, ajak teman-teman kamu untuk berliterasi lebih mendalam mengenai asuransi. Disini kita bisa belajar bersama  dan menambah wawasanmu bahwa asuransi merupakan hal yang penting lho dalam hidup kita di masa depan. So, come join our community!